PERTEMUAN PENGUATAN PROGRAM PERENCANAAN PERSALINAN DAN PENCEGAHAN KOMPLIKASI (P4K)

Dinkes Aula 1, Senin 16 april 2018 – Dalam rangka pencapaian target sasaran rencana pembangunan jangka menengah bidang kesehatan (RPJMN-BK) 2015 – 2019 yaitu AKI menjadi 306/ 100.000 KH, dan target pencapaian SDGs, yaitu AKI menjadi kurang dari 70/100.000 KH pada tahun 2030, perlu dilakukan upaya terobosan yang efektif dan berkesinambungan.

Pada tahun 2017 berdasarkan laporan yang tercatat di Provinsi Jawa Barat terjadi penurunan kematian ibu maupun bayi, pada tahun 2015 kematian ibu berjumlah 823 kasus dan menurun menjadi 797 kasus pada tahun 2016, begitu pula dengan jumlah kematian bayi dari 4.122 kasus di tahun 2015 menjadi 3.676 ditahun 2016. Sedangkan di Kabupaten Bogor jumlah kasus kematian ibu tahun 2017 sebanyak 59 kasus, dengan penyebab terbanyak adalah pendarahan, eklamasi dan penyebab lainnya, sedangkan kematian bayi adalah sebanyak 105 kasus. Walaupun sudah terjadi penurunan baik untuk kematian ibu maupun kematian bayi tetapi masih jauh dari yang diharapkan untuk dapat mencapai target RPJMN maupun angka kematian bayi masih menunjukan adanya masalah akses dan kualitas pelayanan kesehatan yang serius.

Masalah kesehatan bayi / neonatal selain terkait erat dengan kondisi saat ibu hamil dan bersalin juga penyakit dan masalah kesehatan yang dialami bayi segera setelah lahir yang menyakut perawatan bayi baru lahir. Disamping itu sebagian besar kematian ibu disebabkan oleh penyebab langsung, yaitu pendarahan, infeksi, eklamsia, persalinan lama dan komplikasi abortus. Selain itu, kematian ibu juga dilatarbelakangi oleh rendahnya tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, kedudukan dan peran permpuan, faktor sosial budaya serta faktor transpotasi, yang kesemuanya berpengaruh pada munculnya dua keadaan yang tidak menguntungkan, yaitu (1) Tiga Terlambat (3T) dan (2) Empat Terlalu (4T). Mengingat penyebab dan latar belakang kematian ibu sangat kompleks dan menyangkut bidang-bidang yang harus ditangani olehbanyak sektor, baik dilingkungan pemerintah maupun swasta, maka upaya percepatan penurunan AKI memerlukan penanganan yang menyeluruh terhadap masalah yang ada dengan melibatkan sektor terkait. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut, telah dilakukan upaya percepatan penurunan AKI.

Tahun 2000 Departemen Kesehatan telah mencanangkan strategi Making Pregnancy Safer (MPS) yang merupakan strategi terfokus dalam penyediaan dan pemantapan pelayanan kesehatan, dengan 3 (tiga) pesan kunci MPS, yaitu : 1. Setiap persalinan ditangani oleh tenaga kesehatan terlatih, 2. Setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat, 3. Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran. Upaya percepatan penurunan AKI tersebut dilaksanakan melalui empat strategi, yaitu 1) Peningkatan kualitas dan akses pelayanan kesehatan ibu dan bayi, 2) Kerjasama lintas program, lintas sektor dan masyarakat termasuk swasta, 3) Pemberdayaan perempuan, keluarga dan masyarakat, dan 4) meningkatkan survailance, monitoring KIA dan pembiayaan. Diperkirakan 15-20% kehamilan, persalinan dan nifas akan mengalami komplikasi dapat dicegah dan ditangani bila ibu segera mencari pertolongan ke tenaga kesehatan; tenaga kesehatan melakukan prosedur – prosedur penanganan yang sesuai dan mampu melakukan identifikasi dini komplikasi kebidanan. Apabila komplikasi terjadi, tenaga kesehatan dapat memberikan pertolongan pertama dan melakukan tindakan stabilisasi pasien sebelum melakukan proses rujukan efektif sehingga ibu dengan komplikasi dapat segera mendapatkan pelayanan di RS yang cepat dan tepat guna. Mengingat latar belakang penyebab kematian ibu itu sangat kompleks dan banyak keterlibatan sektor terkait dalam penanganannya baik dilingkungan pemerintah maupun lingkungan swasta, maka upaya percepatan penurunan AKI memerlukan penanganan secara multi level dan komprehensif sesuai dengan permasalahan yang ada.

Berbagai upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah tingginya angka kematian ibu dan bayi serta masalah kesehatan di Jawa Barat, antara lain dengan mendekatkan akses pelayanan kebidanan bagi setiap ibu yang membutuhkan pada sistem pelayanan kesehatan primer melalui penempatan bidan diseluruh desa dan pengembangan puskesmas mampu PONED, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dengan melakukan pelatihan secara berkala dan peningkatan pendidikan tenaga bidan sehingga mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak dapat terstandarisasi dengan baik.

Salah satu upaya terobosan dalam penurunan AKI dan AKB di Indonesia adalah melalui pelaksanaan Program Perencanaan Persalainan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), kegiatan P4K ini menitikberatkan dan fokus totalitas monitoring yang menjadi salah satu upaya deteksi dini dalam percepatan penurunan kematian ibu dan bayi baru lahir melalui kegiatan peningkatan akses dan kualitas pelayanan yang sekaligus merupakan kegiatan yang membagun potensi masyarakat serta kepedulian masyarakat serta kepedulian masyarakat untuk persiapan dan tindakan penyelamatan ibu dan bayi baru lahir. Dalam P4K dengan stiker, bidan diharapkan berperan sebagai fasilitator dan dapat membangun komunikasi efektif serta kemitraan diwilayah kerjanya agar dapat terwujud kerjasama dengan ibu, keluarganya dan masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Dengan P4K, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan norma sosial bahwa cara yang aman untuk menyelamatkan ibu hamil, bersalin dan nifas serta bayi baru lahir dengan memeriksakan kehamilan minimal 4x selama hamil, pertolongan persalinan difasilitas kesehatan dan melakukan pelayanan nifas serta perawatan bayi baru lahir ketenaga kesehatan. Disamping itu P4K juga sebagai sarana memperluas pengetahuan kader dalam kesehatan ibu dan anak sehingga kader diharapkan mampu memberikan penyuluhan / pendidikan kesehatan kepada masyarakat dan bisa melakukan deteksi adanya kegawatdaruratan kebidanan sesuai dengan kemampuannya sehingga secara tidak langsung dapat berkontribusi terhadap percepatan penurunan AKI dan AKB di Indonesia umumnya dan khususnya di Jawa Barat.

Tujuan dilakukan kegiatan ini untuk memantapkan pelaksanaan Program perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) ditingkat Puskesmas dalam upaya akseleransi penurunan AKI dan AKB yang berorientasi terhadap upaya promotif dan preventif serta pemberdayaan masyarakat.

Tujuan khusus :

  1. Dipahaminya konsep dan pelaksanaan P4K oleh bidan kordinator
  2. Meningkatnya jumlah desa yang melaksanakan P4K di Puskesmas
  3. meningkatnya cakupan persalinan dan pelayanan KB pasca salin difasilitas kesehatan.
  4. Terlaksananya pencatatan, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan P4K di puskesmas.
  5. Meningkatnya Keterlibatan tokoh masyarakat baik formal maupun non formal.

Peserta kegiatan 101 orang bidan koordinator Puakesmas dilingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. Narasumber kementrian kesehatan RI (Kasie Matornal dr. Mularsih R.), Dinas Kesehatan Provinsi Jabar (Ida Jamilah, SKM, MKM), IBI Cabang kabupaten Bogor (dr. Hj Ade Jubaedah, SsT, MM, MKM)

Berita Lainnya :

DINKES MENGGELAR APEL PERSIAPAN PENGAMANAN NATAL &... FOTO : DOK. DINKES Dinkes, (Kamis 21/12/2017) – Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor drs. Erwin Suriana beserta jajarannya  menggelar apel pe...
Kunjungan Kerja Kepala Dinas Provinsi Jawa –... Cibinong - Selasa 25/07/2017, Kepala Dinas provinsi Jawa Barat Dodo Suhendar melakukan kunjungan kerja ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dalam rangka...
PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (KESW...       Gangguan jiwa tidak bisa diremehkan, jumlahnya terus meningkat. Indonesia masih sangat terbatas dalam fasilitas dan pelayanan dimana jumlah tena...


Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.